Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Pisang Raja Bulu, Potensi Buah Unggulan Kabupaten Kendal

Jumat, 27 Agustus 2010


Pisang yang memiliki nama latin Mussa paradica dikenal sebagai buah tropis yang dapat dimanfaatkan sebagai buah segar maupun bahan makanan olahan. Di kecamatan Patebon kabupaten Kendal, banyak dibudidayakan tanaman pisang terutama di desa Bangunsari yang sebagian tanah pertaniannya merupakan tegalan. Bertanam pisang merupakan usaha yang dilakukan oleh sebagian besar petani di wilayah desa Bangunsari, baik oleh petani yang sudah senior maupun pemuda taninya. Berbagap jenis pisang yang ditanam diantaranya pisang raja bulu, raja sereh, kapok, raja nangka dan pisang ambon. Pisang raja bulu merupakan jenis yang paling banyak ditanam dan menjadi komoditas unggulan kecamatan Patebon kabupaten Kendal.
Untuk mendukung kualitas dan kuantitas pisang raja bulu di kabupaten Kendal, telah dibentuk Kluster yang merupakan wadah bagi petani untuk berdiskusi, berbagi ilmu dan pengalaman. Kluster pisang raja bulu berada dalam pembinaan FEDEP (Forum for Economic Development and Employing Promotion), suatu forum yang meliputi pihak pemerintahan dan swasta. Sejauh ini telah banyak kegiatan yang dilaksanakan oleh kluster pisang baik mengikuti pelatihan, menjalin kerjasama dengan pihak ketiga maupun mengadakan kegiatan pelatihan budidaya sampai pengolahan hasil. Dalam hal pengadaan bibit, FEDEP telah bekerjasama dengan BPPT Serpong yang menghasilkan bibit secara kultur jaringan. Bonggol pisang yang diambil dari petani dikirim ke laboratorium BPPT kemudian diperbanyak dalam media kultur. Dari satu bonggol, dapat dihasilkan tiga plantlet (bibit tanaman hasil kultur jaringan).
Beberapa kendala yag dialami petani dalam budidaya pisang menurut Senen selaku ketua kluster antara lain kualitas produksi buah yang terus menurun, cara berbudidaya yang belum sesuai GAP dan penurunan kesuburan tanah. Meskipun saat ini telah disusun SOP pisang raja bulu akan tetapi belum banyak yang dapat melaksanakannya diantaranya karena sebagian besar petani sudah berusia lanjut. Ketua kluster berharap adanya suatu kelompok tani yang beranggotakan khusus para pemuda yang dianggap mau untuk diajak maju dalam hal pertanian. Saat ini kelompok tani yang sudah terdaftar resmi di Dinas Pertanian kabupaten Kendal beranggotakan petani senior yang cenderung sulit menerima perkembangan ilmu dan teknologi. Jika ada wadah bagi para pemuda tani, diharapkan kualitas dan kuantitas pisang raja bulu di kabupaten Kendal akan terus meningkat pada tahun-tahun mendatang sehingga pisang raja bulu dapat dijadikan sebagai salah satu buah unggulan di kabupaten Kendal.
Salam SuksesMulia

Membuat Kompos dengan APPO


Pupuk merupakan salah satu faktor penunjang dalam budidaya tanaman yaitu sebagai penyedia unsur hara atau sumber makanan bagi tanaman. Meurut kandungannya, pupuk dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu pupuk anorganik yang berasal dari bahan kimia dan pupuk organik yang bersumber dari alam. Saat ini sebagain besar petani memberikan pupuk anorganik pada tanaman yang dibudidayakannya. Ironinya, pemberian pupuk kimia ini seringkali tidak memenuhi prinsip enam tepat yaitu tepat waktu, mutu, jumlah, harga, jenis dan tepat tempat. Dalam prakteknya petani seringkali memupuk dalam jumlah melebihi dosis (tidak tepat jumlah), memupuk ketika punya uang (tidak tepatwaktu) atau hanya memberi pupuk dengan jenis tertentu saja. Hal ini mengakibatkan tanah pertanian menjadi rusak dan kehelingan keseimbangannya.
Penggunaan bahan-bahan organik dalam budidaya tanaman dianggap sebagai salah satu langkah yang dapat memperbaiki kondisi tanah pertanian yang sebagian besar sudah mengalami penurunan kualitas. Bahan organik dapat memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Dalam setiap kesempatan memberi penyuluhan, PPL Pertanian sering menyampaikan pada petani agar mengembalikan bahan organik pada tanah pertanian serta mengurangi penggunaan pupuk kimia. Apalagi Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi telah mengalami kenaikan sebesar 35 % sejak 6 April 2010 yang lalu dan pada tahun-tahun mendatang subsidi pupuk akan terus dikurangi. Dampaknya adalah harga pupuk akan terus melambung tinggi sehingga biaya produksi pun juga ikut meningkat. Jika petani tidak dibiasakan untuk menggunakan pupuk organik terutama buatan sendiri, maka dikhawatirkan kesejahteraan petani tidak akan pernah tercapai karena selalu mengalami kerugiaan akibat biaya produksi yang tinggi.
Sebagai salah satu upaya mengenalkan pertanian organik kepada petani, Kementrian Pertanian RI memberikan bantuan APPO (Alat Pembuatan Pupuk Organik). Desa Pucakwangi kecamatan Pageruyung kabupaten Kendal merupakan salah satu desa yang mendapatkan alokasi bantuan APPO. Pada tanggal 26 Juli 2010 kelompok tani Sido Dadi dan Sido Muncul desa Pucakwangi diberi pelatihan tentang pembuatan pupuk organik padat (kompos) dengan menggunakan APPO. Kegiatan yang dipandu oleh PPL kecamatan Pageruyung serta pihak Dinas Pertanian kabupaten Kendal ini mendapat sambutan yang hangat dari para petani. Dengan penuh antusias, para petani melaksanakan petunjuk dan arahan yang disampaiakan para pemandu. Pembuatan kompos dimulai dengan mencacah jerami padi dengan APPO kemudian disusun setinggi kurang lebih 20 cm, lalu diatasnya diberi kotoran sapi. Setelah itu disemprot dengan larutan yang terdiri dari EM4, tetes tebu dan air sampai rata. Larutan EM4 ini mengandung bakteri dan mikroba yang nantinya akan membantu proses penguraian jerami dan kotoran hewan. Tumpukan jerami dan kotoran sapi dibuat dalam beberapa lapis dan setiap lapisnya disemprot dengan larutan EM4 sampai kurang lebih mencapai tinggi satu meter. Langkah selanjutnya adalah menutup dengan terpal agar terlindung dari air hujan. Pada setiap minggu lapisan sebaiknya dibalik dan kompos sudah siap dipakai setelah satu bulan.
Kegiatan pelatihan pembuatan kompos seperti ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani. Kemanfaatan bagi petani akan terasa lebih nyata jika setelah dilatih, mereka mau melaksanakan dan mempraktekkan sendiri untuk membuat kompos. Dari hal yang kecil, kita bersama mensukseskan pertanian organik yang ramah lingkungan.
Salam SuksesMulia

Bertani Murah Hasil Melimpah

Selasa, 10 Agustus 2010

Kelompok Tani (Poktan) Sido Muncul desa Pucakwangi dan PPL Pertanian kecamatan Pageruyung kabupaten Kendal mengadakan study banding ke desa Kopeng kabupaten Semarang. Kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 8 Agustus 2010 ini mengunjungi Poktan Mardi Santoso yang dinilai telah banyak berprestasi meskipun baru terbentuk bulan Oktober tahun 2009. Desa Kopeng berada pada ketinggian lebih dari 1000 m dpl, sehingga komoditas yang dibudidayakan sebagian besar merupakan sayur dan tanaman hias. Dengan adanya pendampingan yang dilakukan oleh Dinas Pertanian kabupaten Semarang, komoditas yang dihasilkan sudah menembus pasar ekspor baik ke negara di wilayah Asia maupun ke Eropa. Beberapa sayuran yang dibudidayakan terasa asing bagi masyarakat pada umumnya, seperti rumin, horenso, bit, peterseli, red lettuce, head lettuce dan lobak. Menurut bapak Heri dari Dinas Pertanian kabupaten Semarang, beberapa negara tujuan ekspor khususnya di wilayah Asia saat ini masih bisa menerima sayuran yang belum murni organik tetapi ada aturan dalam hal penggunaan pestisida. Beberapa pestisida terutama yang mempunyai daya bunuh secara sistemik, tidak diperbolehkan disemprot pada tanaman sayur.

Petani anggota poktan Mardi Santoso memiliki semboyan “Bertani Murah Hasil Melimpah”, sebuah kalimat yang penuh makna. Kalimat ini didasarkan pada kebiasaan petani setempat yang memanfaatkan bahan-bahan lokal untuk dimanfaatkan menjadi pupuk, zat pengatur tumbuh dan pestisida. Penggunaan bahan kimia sangat diminimalisir, sehingga selain dapat menghemat biaya produksi, sayuran yang dihasilkan juga aman serta sehat untuk dikonsumsi. Untuk membuat pupuk, petani memanfaatkan kotoran ternak yang difermentasi dengan bantuan MOL (Mikro Organisme Lokal). Bahan pembuatan MOL sangat mudah diperoleh seperti nanas, air kelapa dan ragi. Sedangkan untuk mengatasi tidak terserapnya pupuk ke daun akibat hujan, dibuat P4 Plus dari lidah buaya yang berfungsi sebagai perekat. Untuk mengoptimalkan pertumbuhan tanaman, diaplikasikan Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) yang juga dibuat sendiri.

Dengan adanya kegiatan study seperti ini, diharapkan dapat membuka wacana petani bahwa untuk mejadi petani sukses, tidak harus mengeluarkan biaya tinggi. Hal yang penting untuk keberhasilan segala sesuatu ialah semangat dan kemauan untuk maju. Menurut pepatah, dimana ada kemauan disitu ada jalan. Jayalah pertanian Indonesia agar petani sejahtera.

Salam SuksesMulia

ACC Go To Jogja

Senin, 09 Agustus 2010

Pada tanggal 6 Agustus 2010, ACC bersama petani kluster jambu getas metah dan pisang raja bulu bertandang ke Yogyakarta dalam rangka peningkatan pengetahuan dan wawasan di bidang pertanian. Tujuan pertama rombongan ialah menyaksikan pameran diversifikasi pangan di halaman kantor BKPP Propinsi DIY. Dalam pameran tersebut, ditampilkan berbagai macam produk pangan olahan berbahan baku lokal seperti ketela, ubi jalar, sukun, ganyong dan pisang yang diolah menjadi kue, cake, krupuk, dodol dan lain-lain. Pengunjung diberi kesempatan untuk mencicipi hasil olahan tersebut serta bertanya pada petugas penjaga stand. Dari kegiatan pameran ini, para petani yang turut menyaksikan mendapat tambahan ilmu tentang jenis produk olahan serta cara pengemasan yang baik. Selain itu, juga dapat menambah jaringan pasar dengan pelaku usaha pertanian khususnya di wilayah DIY.

Kemudian kunjungan dilanjutkan ke Pakem untuk menyaksikan kebun buah naga milik seorang petani sukses, Gun Soetopo. Akan tetapi karena ada beberapa kendala, rombongan baru bisa sampai lokasi kebun ketika hari sudah gelap. Meskipun demikian, hal tersebut tidak mengurangi semangat rombongan untuk meninjau lokasi dan berdialog dengan petani penggarap kebun. Dari hasil dialog tersebut, crew ACC yang juga berprofesi sebagai PPL Pertanian serta petani kluster mendapat semangat untuk senantiasa berkarya dan memajukan pertanian.

Apapun kegiatan yang dilakukan, tampaknya akan kurang bermanfaat jika tidak ada tindak lanjut yang nyata. Oleh karena itu, dari kegiatan ACC go to Jogja ini diharapkan ada keberlanjutan yang dapat memberi manfaat positif, baik bagi personil ACC maupun bagi petani dan masyarakat luas. Pertanian kita bisa berjaya jika kita mau bergerak dan berusaha untuk mencapainya, bukan dengan angan-angan kosong atau sekedar konsep tanpa langkah yang nyata.

Salam SuksesMulia

Olahan Jambu Biji Merah Dipamerkan

Kamis, 05 Agustus 2010

Dalam rangka meningkatkan kemampuan, pengetahuan dan keterampilan petani jambu biji di kecamatan Pageruyung, diadakan program Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SL-PHT). Program ini diikuti oleh 30 petani jambu biji, meliputi 14 kali pertemuan yang dilaksanakan satu minggu sekali dimulai dari bulan April 2010. Pada pertemuan mingguan ini, petani dilatih untuk melakukan pengamatan di lahan, meliputi pengamatan hama dan penyakit yang menyerang tanaman. Selain itu juga dilakukan pengamatan terhadap populasi musuh alami yang merupakan predaoir bagi hama. Setelah dilakukan pengamatan di lahan, kemudian dilanjutkan dengan diskusi atas hasil pengamatan dan dibuat kesimpulan harian. Setelah itu dilanjutkan dengan pemberian materi yang disampaikan oleh pemandu kegiatan. Selain materi, petani juga diajari untuk membuat membuat pupuk dan pestisida organik yang ramah lingkungan.

Pada pertemuan yang terakhir pada tanggal 5 Agustus 2010, dilaksanakan acara penutupan sekaligus field day program SL-PHT Jambu Biji yang bertempat di balai desa Tambahrejo Kecamatan Pageruyung, diikuti oleh 60 orang yang terdiri dari petani jambu, PPL, serta BPTPH Propinsi Jawa Tengah. Dalam kegiatan ini ditampilkan berbagai hasil praktek dari petani peserta SL-PHT meliputi pupuk organik, pestisida organik, buah jambu segar serta berbagai produk olahan seperti sirup, dodol, manisan dan selai jambu biji. Akan tetapi berbagai produk hasil praktek tersebut sampai saat ini masih dipasarkan hanya kalau ada pesanan karena masih diproduksi dalam skala kecil.

Salah satu peserta yang juga koordinator kegiatan, Widoko, mengharapkan ada tindakan lanjutan dari progam SL-PHT seperti pendampingan dari PPL maupun kerjasama dengan berbagai stakeholder terkait untuk memajukan jambu biji di kabupaten Kendal. Diharapkan juga ada kerjasama dengan Forum Rembug Kluster jambu getas merah yang merupakan wadah bagi seluruh petani jambu di kabupaten Kendal. Dengan kerjasama dari berbagai pihak ini, jambu biji merah varietas getas dapat menjadi buah unggulan kabupaten Kendal serta dapat menjadi komoditas yang dapat meningkatkan kesejahteraan petani.

Sukses Petani Jambu Getas Merah : Tanam Pertama 90 Bibit, Kini Kelola 12 Ha

Rabu, 04 Agustus 2010

KESUKSESAN dan rezeki manusia memang tidak didapat dengan hanya berpangku tangan. Abdul Kurnen (50), petani jambu getas merah asal Desa Magersari Kecamatan Patean misalnya. Dirinya berhasil menuai sukses membudidayakan jenis jambu getas merah setelah sebelumnya sempat terpuruk saat mencoba usaha lain. Ketika ditemui di rumahnya kemarin dirinya menjelaskan, sebelum berhasil membidangi usaha perkebunan jambu, dia beberapa kali sempat mengalami kegagalan saat mencoba menanami tanahnya dengan padi, pisang lalu kemudian mencoba membudidaya ikan koi.


“Awal tahun 2000-an, saya beberapa kali sempat gagal saat mencoba menseriusi perkebunan pisang dan ternak ikan koi. Tahun 2003, setelah membaca di sebuah majalah holtikultura, saya mendapatkan inspirasi untuk menanami kebun saya dengan jambu getas yang saat itu baru ada di Bogor,” katanya. Awal proses usahanya, dia hanya menanam 90 bibit pohon jambu merah yang dia dapat langsung dari Bogor. Dengan berkembangnya pengetahuan tentang tanaman jambu, serta meningkatnya minat masyarakat atas buah jambu merah, kini usaha yang ditekuninya mampu memberikan omzet yang cukup besar bagi dia dan keluarganya. “Saat ini saya mengelola 12 hektare kebun jambu. Setiap hektarenya bisa menghasilkan tiga kuintal buah jambu yang bisa langsung dipasarkan ke beberapa kota, khususnya Semarang, Surabaya dan Yogjakarta,” paparnya.

Ditambahkan, menanam jambu memang memberikan keuntungan tersendiri dibanding menanam padi atau pisang. Dikarenakan, setiap tanaman yang sudah berbuah secara produktif, para petani bisa memanen 100 kali dalam satu tahun. Meskipun, harga buah jambu setiap bulan bisa berubah dan fluktuasi harganya sangat tinggi.
“Sekilo jambu kita jual dengan kisaran Rp. 1.000 hingga Rp 6.000. Naik turunnya harga tergantung banyak tidaknya hasil panen. Saat panen raya, khususnya di bulan Desember, harga per kilo jambu bisa sangat rendah hingga mencapai Rp. 1.000,” papar dia. Terkendala Pemasaran Dikatakan, meski bisa dikatakan sudah cukup sukses sebagai petani, ada beberapa kendala yang dihadapi para petani jambu pada umumnya. Yaitu terkait manajemen pemasaran yang menurutnya cukup sulit, khususnya ketika panen melimpah.

“Para petani sangat sulit memasarkan hasil panen saat panen melimpah. Apalagi jika panen itu juga dibarengi panen buah-buah lainnya. Maka untuk itu kita berusaha melakukan terobosan dengan mengolah hasil panen sebagai produk kemasan seperti jus dan sirup,” kata pria yang juga ketua klaster jambu getas merah Kendal.

Sementara itu anggota Fraksi PKS DPRD Kabupaten kendal, Kartika Nursapto menilai potensi jambu getas merah cukup bagus untuk dijadikan buah khas Kendal. Sayangnya, selamaa ini pemkab belum begitu serius membantu mengenalkan produk dari petani di pasar nasional.
‘’Kalau dikembangkan dan dikelola dengan baik, jambu merah bisa menjadi salah satu ikon Pemkab Kendal mendampingi pisang raja bulu,’’ pungkasnya. (Lanang Wibisono-14)

PELATIHAN PISANG RAJA BULU : SUARA MERDEKA 4 AGUSTUS 2010

Alhamdulilah puji syukur ke hadlirat Allah SWT, kembali ACC diajak oleh kluster pisang raja bulu Kabupaten Kendal untuk ikut serta dan aktif memberikan peran aktifnya di masyarakat petani. hal ini membuktikan bahwa keseriusan teman-teman yang militansinya tinggi ini benar-benar sudah memahami perjuangan dalam menjalankan peran aktifnya di masyarakat. Tidak ada waktu terbuang kecuali buat petani dan kemajuan pertanian. Berikut kami kutip pemberitaan dari rekan wartawan Suara Merdeka hari Rabu 4 Agustus 2010.

KENDAL- Sebanyak 39 anggota Klaster Pisang Bulu, Kecamatan Patebon mengikuti pelatihan pengolahan pisang yang diadakan oleh Klaster Pisang Raja Bulu Kendal, Selasa (3/8).

Menurut Sarifudin, Sekretaris Klaster Kendal, pelatihan itu untuk memberikan ketrampilan para petani dalam mengolah pisang yang melimpah, khususnya di Kecamatan Patebon.
Selain itu, pelatihan itu juga meningkatkan kemampuan pengolahan pisang para petani pisang raja bulu yang ada di daerah tersebut.

“Diharapkan dengan pelatihan ini bisa meningkatkan penghasilan petani. Karena sebelumnya, banyak petani yang menjual hasil panen secara langsung. Dengan harga yang cukup rendah untuk pisang yang hasilnya kurang baik.”
Kartika Nursapto, anggota Komisi A DPRD Kendal yang mendampingi proses pelatihan itu mengatakan, produksi pisang raja bulu di Kecamatan Patebon cukup tinggi. Bahkan, khusus di Desa Bangunsari, Kecamatan Patebon untuk sekali panen tiap 15 hari sekali, para petani bisa mengirim satu truk pisang ke distributor.

Di Desa Bangunsari itu sendiri, ada sekitar 150 hektare lahan perkebunan pisang raja bulu. “Dalam sebulan petani bisa memanen dua kali. Diharapkan, dengan mengikuti pelatihan ini saat hasil panen melimpah bisa diolah sehingga memiliki nilai jual tinggi,” pungkasnya. (lan-52)


Kendal Diambil dari Nama Sebuah Pohon

Minggu, 01 Agustus 2010

Mungkin belum orang yang mengetahui bahwa ada sebuah pohon yang bernama Kendal. Sejauh ini nama Kendal dikenal sebagai salah satu kabupaten yang terletak di propinsi Jawa Tengah. Ternyata jika dilihat dari sejarah, nama Kendal diambil dari nama sebuah pohon yakni Pohon Kendal.

Pohon yang berdaun rimbun itu sudah dikenal sejak masa Kerajaan Demak pada tahun 1500 - 1546 M yaitu pada masa Pemerintahan Sultan Trenggono. Pada awal pemerintahannya tahun 1521 M, Sultan Trenggono pernah memerintah Sunan Katong untuk memesan Pusaka kepada Pakuwojo. Menurut kisah, Sunan Katong pernah terpana memandang keindahan dan kerindangan pohon Kendal yang tumbuh di lingkungan sekitar. Sambil menikmati pemandangan pohon Kendal yang nampak "sari" itu, Beliau menyebut bahwa di daerah tersebut kelak bakal disebut "Kendalsari".


Dalam acara Pekan Seni dan Pameran Pembangunan (PSPP) kabupaten Kendal, pohon Kendal ditampilkan di stand Kantor Lingkungan Hidup. Acara yang dilaksanakan untuk memeriahkan hari jadi Kendal ini dapat dikunjungi mulai tanggal 29 Juli sampai dengan 5 Agustus 2010 di stadion baru Kendal. Dengan adanya acara seperti ini, diharapkan dapat memperluas pengetahuan masyarakat tentang segala hal yang terkait dengan Kendal, termasuk sejarahnya.

Oleh-oleh Dari Kebun Jambu

Sabtu, 31 Juli 2010

Jambu Biji Merah. Siapa yang tidak tahu buah yang satu ini. Buah ini banyak sekali manfaatnya. Terutama buah dan daunnya sangat bermanfaat untuk meningkatkan trombosit darah saat kita terkena demam berdarah. Buah jambu bisa di jus atau di ambil sarinya lalu diminum secara rutin. Dan ternyata sangat ampuh untuk meningkatkan trombosit dalam darah.

Pada hari sabtu tanggal 24 Juli 2010, ACC Crew (Agri Care Community)berkunjung ke kebun jambu biji merah Getas di kebun Bapak Kornen untuk panen bersama. Jambu yang yang sudah terlihat kekuningan di petik lalu di grading dan dicuci lalu dipasarkan.

Setelah dari kebun, jambu yang sudah masak penuh di kemas untuk di olah ke tempat pembuatan sari buah. ACC crew bersama rekan dari pondok pesantren Barokah membuat sari buah jambu. Jambu 25 Kg ditambah dengan 7 Kg gula pasir diolah menjadi satu lalu disterilisasi dan jadilah sari buah jambu yang siap untuk dinikmati.

Akankah dengan Program BLBU Pertanian Kita Bisa Berjaya ?

Jumat, 30 Juli 2010

Kebutuhan dunia akan pangan semakin meningkat seiring dengan peningkatan laju pertumbuhan penduduk. Sementara tantangan yang dihadapi dalam produksi tanaman pertanian juga semakin kompleks, diantaranya fenomena iklim global, ketersediaan lahan yang berkurang, kurangnya ketersediaan air irigasi, penggunaan benih unggul yang masih rendah, belum digunakannya pupuk secara berimbang serta efisien dan sebagainya. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, Badan Litbang Kementrian Pertanian telah menghasilkan dan mengembangkan pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) yang terbukti mampu meningkatkan produktivitas dan efisiensi input produksi tanaman pangan.

Dalam upaya pengembangan PTT secara nasional, Kementrian Pertanian meluncurkan program Sekolah Lapang (SL) PTT. Program ini merupakan pendidikan non formal bagi petani yang bertujuan untuk menghasilkan produktivitas yang tinggi serta berkelanjutan.

Pada tahun 2010, Dinas Pertanian Kabupaten Kendal mendapatkan alokasi SL-PTT untuk komoditas padi hibrida, padi inbrid, jagung hibrida, kacang tanah dan kedelai. Kelompok Tani sebagai pelaksana program Sl-PTT akan mendapatkan dana Bantuan Sosial (Bansos) dan Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU). Dana Bansos digunakan untuk subsidi pembelian pupuk serta biaya pertemuan petani peserta SL-PTT. Jumlah dana Bansos yang diterima tahun ini lebih kecil jika dibanding dengan tahun 2009 karena pada tahun 2010 benih diberikan melalui BLBU. Sedangkan pada tahun 2009 subsidi benih diserahkan dalam bentuk Bansos (uang) sehingga petani dapat menentukan sendiri varietas benih yang sesuai dengan agroklimat lokasi penanaman.
Beberapa kendala yang terjai di lapang terkait benih yang digunakan dalam program SL-PTT berasal dari BLBU diantaranya pertumbuhan tanaman yang kurang optimal karena varietas yang tidak sesuai dengan spesifik lokasi. Sebagai akibatnya, produktivitas tanaman menjadi rendah. Hal ini tentu tidak sesuai dengan tujuan diadakannya program SL-PTT. Masalah lain dalam BLBU ialah kualitas benih yang sangat rendah. Sebagai salah satu contohnya ialah BLBU Kacang Tanah tahun 2010 di Kabupaten Kendal. Benih yang diserahkan pada petani memiliki daya tumbuh kurang dari 50 % dan tercampur dengan yang sudah busuk. Keadaan ini memaksa petani harus melakukan seleksi beberapa tahap untuk memilih benih bagus yang dapat tanam. Akibatnya, petani menjadi sangat dirugikan apalagi jika benih yang ditanam tidak tumbuh. Petani mengalami kerugian secara waktu karena rata-rata lahan yang digarap bukan miliknya sendiri melainkan lahan sewa.

Penyuluh Pertanian Lapang (PPL) juga terkena dampak akibat kualitas benih yang kurang bagus tersebut. Selain harus menghadapi langsung keluhan petani, PPL juga dianggap tidak dapat memberikan contoh yang baik. Ketika penyuluhan harus menyampaikan kepada petani agar memakai benih unggul, tetapi saat menyalurkan BLBU kualitasnya sangat jauh di bawah varietas unggul. Jika berkelanjutan, petani bisa menjadi trauma dan tidak mau menerima bantuan benih atau bahkan enggan menjalankan program yang diluncurkan Kementrian Pertanian.

Dinas Pertanian Kendal selaku penaggung jawab program BLBU dan SL-PTT tingkat kabupaten telah melakukan upaya agar petani mendapat ganti atas benih kacang yang kualitasnya rendah. Akan tetapi yang sangat disayangkan ialah niat baik ini tidak disertai dengan cara yang baik juga. Langkah yang ditempuh memberikan dampak yang tidak baik bagi petani karena bersifat tidak mendidik. Sistem penggantian yang tidak sesuai dengan surat perjanjian serta tidak transparan terkesan membodohi petani. Jika berkelanjutan, hal ini bisa menyebabkan trauma dan ketidakpercayaan petani pada pemerintah.

Dibutuhkan kerjasama yang baik dan saling mendukung di antara semua stake holder untuk mewujudkan pertanian yang jaya serta petani sejahtera. Sungguh sangat ironis, niat baik pemerintah pusat untuk memajukan pertanian di Indonesia terkendala oleh pihak-pihak yang kurang bertanggung jawab.

Laporan Fedep Expo

Rabu, 21 Juli 2010

Pada hari Rabu tanggal 21 Juli 2010, di kantor Bappeda Jawa Tengah mulai jam 08.00 sampai dengan 16.30 WIB telah diselenggarakan acara seminar dan pameran produk-produk yang selama ini telah dibina dan dilakukan pendampingan kerjasama antara Bappeda pada masing-masing kabupaten, propinsi dan kalangan swasta yang pendanaannya dibantu oleh semacam bantuan asing dari Jerman.

Acara seminar yang memperbincangkan tentang pengembangan pendanaan seperti UMKM bagi klaster-klaster dilakukan di kantor Bappeda lt. VI, yang diikuti oleh perwakilan dari semua kabupaten yang ada di Propinsi Jawa Tengah ini. Sebagai narasumber adalah dari Bank Indonesia Cabang Semarang. Maksud dari seminar ini adalah untuk semakin menumbuhkembangkan klaster-klaster yang ada agar ketika pendampingan kelak dilepas maka usaha-usaha yang dilakukan semakin meningkat dan berkembang serta dalam pencarian kebutuhan modal tidak mengalami kesulitan.

Sedangkan di halaman kantor Bappeda diselenggarakan pameran produk-produk unggulan dari masing-masing klaster yang dikembangkan dari kabupaten dilingkup Propinsi Jawa Tengah. hampir semua kabupaten mengirimkan produk olahan dan usahanya. Meski pengunjung yang datang masih terbatas dari kalangan PNS dilingkungan kantor Bappeda dan Pemkot Semarang, namun antusias mereka untuk membeli sangat tinggi. Hal ini dibuktikan dengan laris dan habisnya barang-barang yang dijual oleh klaster-klaster tersebut.

Tidak terkecuali Kabupaten Kendal yang mengirim produk olahan Jambu Getas Merah yang berujud Sari Buah, Sirup dan Dodol habis dibeli oleh pengunjung. Demikian pula bibit Jambu juga habis terbeli. Tidak ketinggalan Pisang Raja Bulu yang menjadi salah satu icon Kendal juga ludes tanpa sisa.

Kegiatan seperti ini memang sangat bermanfaat untuk semakin meningkatkan semangat khususnya petani untuk berkarya, berinovasi dan tekun dalam memasarkan produk-produknya.

Menteri Pertanian, Kowani Teken MoU Penganekaragaman Pangan

Sabtu, 08 Mei 2010

Penulis : Siska Nurifah
JAKARTA--MI: Menteri Pertanian RI Suswono bersama Kongres Wanita Indonesia (Kowani) yang diwakili Dewi Motik, sepakat melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dan pencanangan Gerakan Hari Tanpa Nasi Mendukung Gizi Seimbang untuk Kesehatan dan Kecerdasan Anak.

Kesepakatan tersebut dalam upaya percepatan penganekaragaman konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal agar terwujud komsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang, dan aman dalam jumlah dan komposisi yang cukup, guna memenuhi kebutuhan gizi.

Disamping itu pegurangan konsumsi beras juga menjadi fokus utama gerakan ini. "Dengan gerakan ini saya yakin bahwa penurunan konsumsi beras sebesar 1,5% pertahun akan dapat dicapai," tegas Suswono di Jakarta, Jumat (7/5).

"Suatu saat kita akan kesulitan menanam padi karena suasana iklim yang berubah-ubah. Ini merupakan tantangan bagi sektor pertanian. Mengingat konsumsi beras perkapita secara nasional masih tinggi. Dan kondisi tersebut akan menyulitkan kita di masa akan datang karena penduduk bertambah terus sekitar 1,34% per tahun," ungkap suswono.

Suswono mengungkapkan bahwa saat ini ketergantungan Indonesia terhadap beras sangat tinggi. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi beras di Indonesia sebanyak 139 kg/kapita/tahun. Untuk konsumsi rumah tangga 110 kg per kapita per tahun. Sedangkan negara lain konsumsi berasnya lebih rendah, seperti Malaysia 90 kg/kapita/tahun, Brunei 80 kg/kapita/tahun, dan Thailand 70 kg/kapita/tahun. "Kami menargetkan 2014 sudah harus dibawah 100 kg per kapita per tahun," tegasnya.

Pelaksanaan kegiatan tersebut dilakukan dalam dua tahapan, yaitu tahap I (2009-2011) dan tahap II (2012-2015). Keberhasilan gerakan tersebut ditentukan dengan skor Pola Pangan Harapan (PPH) dimana apabila tercapai kondisi skor PPH 88,1 pada tahun 2011 dan skor PPH 95 pada tahun 2015. (*/OL-03)

Sumber: www.mediaindonesia.com

Selamat Datang di Agri Care Community

Kamis, 29 April 2010

Agri Care Community adalah komunitas peduli pertanian yang dibuat untuk membangun jaringan bagi para pelaku, pencinta, penggiat dan aktifis pertanian termasuk didalamnya bidang peternakan, perikanan, perkebunan, tanaman pangan, hortikultura, kehutanan dan agroindustri.


Visi:
Menjadi komunitas yang peduli terhadap kesejahteraan masyarakat pelaku pertanian melalui program-program yang bisa mengangkat harkat dan martabat masyarakat pertanian secara berkelanjutan.

Misi:
  1. Membangun masyarakat pertanian yang profesional, mandiri, modern dan bermoral tinggi.
  2. Membina masyarakat petani dengan basis kesejahteraan petani.
  3. Mengembangkan industri pertanian berbasis komunitas yang berdaya saing tinggi secara berkelanjutan.
  4. Memperjuangkan kepentingan petani agar tercipta system yang berpihak pada kesejahteraan petani.

Aksi:
  1. Mambangun jaringan komunitas pecinta pertanian dan membuat simpul-simpul di setiap desa.
  2. Pengembangan sumberdaya manusia melalui penyuluhan, diskusi, seminar, dan kegiatan lain yang bisa mengembangkan sumber daya perani.
  3. Meningkatkan akses informasi bagi petani agar bisa mendapatkan informasi pertanian melalui selebaran, artikel, buku, klipping, media internet dan lain sebagainya.
  4. Mengusahakan terciptanya alternatif pasar sehingga terbangun rantai pasar yang pendek untuk meningkatkan keuntungan petani.
  5. Melakukan advokasi bagi para petani untuk mendapatkan hak-hak mereka dan memeberi abntuan hukum apabila mendapat masalah hukum.
  6. Mendorong lembaga keuangan untuk masuk sektor pertanian denganh skema yang menguntungkan petani.
  7. Mendorong kekuatan modal kolektif petani.
  8. Merealisasikan subsidi pertanian yang tepat sasaran dan produktif.

Agri Care Community

 
 
 
 
Copyright © Agri Care Community