Kategori
Donasi ACC
Bank Central Asia
No. Rek:
AN:
Terima Kasih
Pisang Raja Bulu, Potensi Buah Unggulan Kabupaten Kendal
Diposting oleh Awin Afriani di 17.08 3 komentar
Label: Berita, Budidaya Pertanian
Membuat Kompos dengan APPO
Diposting oleh Awin Afriani di 16.14 0 komentar
Label: Berita, Budidaya Pertanian, event, Tekhnologi
Bertani Murah Hasil Melimpah
Kelompok Tani (Poktan) Sido Muncul desa Pucakwangi dan PPL Pertanian kecamatan Pageruyung kabupaten Kendal mengadakan study banding ke desa Kopeng kabupaten Semarang. Kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 8 Agustus 2010 ini mengunjungi Poktan Mardi Santoso yang dinilai telah banyak berprestasi meskipun baru terbentuk bulan Oktober tahun 2009. Desa Kopeng berada pada ketinggian lebih dari 1000 m dpl, sehingga komoditas yang dibudidayakan sebagian besar merupakan sayur dan tanaman hias. Dengan adanya pendampingan yang dilakukan oleh Dinas Pertanian kabupaten Semarang, komoditas yang dihasilkan sudah menembus pasar ekspor baik ke negara di wilayah Asia maupun ke Eropa. Beberapa sayuran yang dibudidayakan terasa asing bagi masyarakat pada umumnya, seperti rumin, horenso, bit, peterseli, red lettuce, head lettuce dan lobak. Menurut bapak Heri dari Dinas Pertanian kabupaten Semarang, beberapa negara tujuan ekspor khususnya di wilayah Asia saat ini masih bisa menerima sayuran yang belum murni organik tetapi ada aturan dalam hal penggunaan pestisida. Beberapa pestisida terutama yang mempunyai daya bunuh secara sistemik, tidak diperbolehkan disemprot pada tanaman sayur.
Petani anggota poktan Mardi Santoso memiliki semboyan “Bertani Murah Hasil Melimpah”, sebuah kalimat yang penuh makna. Kalimat ini didasarkan pada kebiasaan petani setempat yang memanfaatkan bahan-bahan lokal untuk dimanfaatkan menjadi pupuk, zat pengatur tumbuh dan pestisida. Penggunaan bahan kimia sangat diminimalisir, sehingga selain dapat menghemat biaya produksi, sayuran yang dihasilkan juga aman serta sehat untuk dikonsumsi. Untuk membuat pupuk, petani memanfaatkan kotoran ternak yang difermentasi dengan bantuan MOL (Mikro Organisme Lokal). Bahan pembuatan MOL sangat mudah diperoleh seperti nanas, air kelapa dan ragi. Sedangkan untuk mengatasi tidak terserapnya pupuk ke daun akibat hujan, dibuat P4 Plus dari lidah buaya yang berfungsi sebagai perekat. Untuk mengoptimalkan pertumbuhan tanaman, diaplikasikan Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) yang juga dibuat sendiri.
Dengan adanya kegiatan study seperti ini, diharapkan dapat membuka wacana petani bahwa untuk mejadi petani sukses, tidak harus mengeluarkan biaya tinggi. Hal yang penting untuk keberhasilan segala sesuatu ialah semangat dan kemauan untuk maju. Menurut pepatah, dimana ada kemauan disitu ada jalan. Jayalah pertanian Indonesia agar petani sejahtera.
Salam SuksesMulia
Diposting oleh Zakia Emha di 16.49 0 komentar
ACC Go To Jogja
Apapun kegiatan yang dilakukan, tampaknya akan kurang bermanfaat jika tidak ada tindak lanjut yang nyata. Oleh karena itu, dari kegiatan ACC go to Jogja ini diharapkan ada keberlanjutan yang dapat memberi manfaat positif, baik bagi personil ACC maupun bagi petani dan masyarakat luas. Pertanian kita bisa berjaya jika kita mau bergerak dan berusaha untuk mencapainya, bukan dengan angan-angan kosong atau sekedar konsep tanpa langkah yang nyata.
Salam SuksesMulia
Diposting oleh Zakia Emha di 07.37 0 komentar
Olahan Jambu Biji Merah Dipamerkan
Pada pertemuan yang terakhir pada tanggal 5 Agustus 2010, dilaksanakan acara penutupan sekaligus field day program SL-PHT Jambu Biji yang bertempat di balai desa Tambahrejo Kecamatan Pageruyung, diikuti oleh 60 orang yang terdiri dari petani jambu, PPL, serta BPTPH Propinsi Jawa Tengah. Dalam kegiatan ini ditampilkan berbagai hasil praktek dari petani peserta SL-PHT meliputi pupuk organik, pestisida organik, buah jambu segar serta berbagai produk olahan seperti sirup, dodol, manisan dan selai jambu biji. Akan tetapi berbagai produk hasil praktek tersebut sampai saat ini masih dipasarkan hanya kalau ada pesanan karena masih diproduksi dalam skala kecil.
Salah satu peserta yang juga koordinator kegiatan, Widoko, mengharapkan ada tindakan lanjutan dari progam SL-PHT seperti pendampingan dari PPL maupun kerjasama dengan berbagai stakeholder terkait untuk memajukan jambu biji di kabupaten Kendal. Diharapkan juga ada kerjasama dengan Forum Rembug Kluster jambu getas merah yang merupakan wadah bagi seluruh petani jambu di kabupaten Kendal. Dengan kerjasama dari berbagai pihak ini, jambu biji merah varietas getas dapat menjadi buah unggulan kabupaten Kendal serta dapat menjadi komoditas yang dapat meningkatkan kesejahteraan petani.
Diposting oleh Zakia Emha di 00.28 0 komentar
Label: Berita, event, Pasca Panen, Produksi Pertanian
Sukses Petani Jambu Getas Merah : Tanam Pertama 90 Bibit, Kini Kelola 12 Ha
KESUKSESAN dan rezeki manusia memang tidak didapat dengan hanya berpangku tangan. Abdul Kurnen (50), petani jambu getas merah asal Desa Magersari Kecamatan Patean misalnya. Dirinya berhasil menuai sukses membudidayakan jenis jambu getas merah setelah sebelumnya sempat terpuruk saat mencoba usaha lain. Ketika ditemui di rumahnya kemarin dirinya menjelaskan, sebelum berhasil membidangi usaha perkebunan jambu, dia beberapa kali sempat mengalami kegagalan saat mencoba menanami tanahnya dengan padi, pisang lalu kemudian mencoba membudidaya ikan koi.
“Awal tahun 2000-an, saya beberapa kali sempat gagal saat mencoba menseriusi perkebunan pisang dan ternak ikan koi. Tahun 2003, setelah membaca di sebuah majalah holtikultura, saya mendapatkan inspirasi untuk menanami kebun saya dengan jambu getas yang saat itu baru ada di Bogor,” katanya. Awal proses usahanya, dia hanya menanam 90 bibit pohon jambu merah yang dia dapat langsung dari Bogor. Dengan berkembangnya pengetahuan tentang tanaman jambu, serta meningkatnya minat masyarakat atas buah jambu merah, kini usaha yang ditekuninya mampu memberikan omzet yang cukup besar bagi dia dan keluarganya. “Saat ini saya mengelola 12 hektare kebun jambu. Setiap hektarenya bisa menghasilkan tiga kuintal buah jambu yang bisa langsung dipasarkan ke beberapa kota, khususnya Semarang, Surabaya dan Yogjakarta,” paparnya.
“Para petani sangat sulit memasarkan hasil panen saat panen melimpah. Apalagi jika panen itu juga dibarengi panen buah-buah lainnya. Maka untuk itu kita berusaha melakukan terobosan dengan mengolah hasil panen sebagai produk kemasan seperti jus dan sirup,” kata pria yang juga ketua klaster jambu getas merah Kendal.
Sementara itu anggota Fraksi PKS DPRD Kabupaten kendal, Kartika Nursapto menilai potensi jambu getas merah cukup bagus untuk dijadikan buah khas Kendal. Sayangnya, selamaa ini pemkab belum begitu serius membantu mengenalkan produk dari petani di pasar nasional. ‘’Kalau dikembangkan dan dikelola dengan baik, jambu merah bisa menjadi salah satu ikon Pemkab Kendal mendampingi pisang raja bulu,’’ pungkasnya. (Lanang Wibisono-14)
Diposting oleh knursapto di 10.27 1 komentar
Label: Berita, Info Sehat, Produksi Pertanian
PELATIHAN PISANG RAJA BULU : SUARA MERDEKA 4 AGUSTUS 2010
Menurut Sarifudin, Sekretaris Klaster Kendal, pelatihan itu untuk memberikan ketrampilan para petani dalam mengolah pisang yang melimpah, khususnya di Kecamatan Patebon. Selain itu, pelatihan itu juga meningkatkan kemampuan pengolahan pisang para petani pisang raja bulu yang ada di daerah tersebut.
“Diharapkan dengan pelatihan ini bisa meningkatkan penghasilan petani. Karena sebelumnya, banyak petani yang menjual hasil panen secara langsung. Dengan harga yang cukup rendah untuk pisang yang hasilnya kurang baik.” Kartika Nursapto, anggota Komisi A DPRD Kendal yang mendampingi proses pelatihan itu mengatakan, produksi pisang raja bulu di Kecamatan Patebon cukup tinggi. Bahkan, khusus di Desa Bangunsari, Kecamatan Patebon untuk sekali panen tiap 15 hari sekali, para petani bisa mengirim satu truk pisang ke distributor.
Di Desa Bangunsari itu sendiri, ada sekitar 150 hektare lahan perkebunan pisang raja bulu. “Dalam sebulan petani bisa memanen dua kali. Diharapkan, dengan mengikuti pelatihan ini saat hasil panen melimpah bisa diolah sehingga memiliki nilai jual tinggi,” pungkasnya. (lan-52)
Diposting oleh knursapto di 09.59 0 komentar
Label: Berita
Kendal Diambil dari Nama Sebuah Pohon
Mungkin belum orang yang mengetahui bahwa ada sebuah pohon yang bernama Kendal. Sejauh ini nama Kendal dikenal sebagai salah satu kabupaten yang terletak di propinsi Jawa Tengah. Ternyata jika dilihat dari sejarah, nama Kendal diambil dari nama sebuah pohon yakni Pohon Kendal.
Pohon yang berdaun rimbun itu sudah dikenal sejak masa Kerajaan Demak pada tahun 1500 - 1546 M yaitu pada masa Pemerintahan Sultan Trenggono. Pada awal pemerintahannya tahun 1521 M, Sultan Trenggono pernah memerintah Sunan Katong untuk memesan Pusaka kepada Pakuwojo. Menurut kisah, Sunan Katong pernah terpana memandang keindahan dan kerindangan pohon Kendal yang tumbuh di lingkungan sekitar. Sambil menikmati pemandangan pohon Kendal yang nampak "sari" itu, Beliau menyebut bahwa di daerah tersebut kelak bakal disebut "Kendalsari".
Dalam acara Pekan Seni dan Pameran Pembangunan (PSPP) kabupaten Kendal, pohon Kendal ditampilkan di stand Kantor Lingkungan Hidup. Acara yang dilaksanakan untuk memeriahkan hari jadi Kendal ini dapat dikunjungi mulai tanggal 29 Juli sampai dengan 5 Agustus 2010 di stadion baru Kendal. Dengan adanya acara seperti ini, diharapkan dapat memperluas pengetahuan masyarakat tentang segala hal yang terkait dengan Kendal, termasuk sejarahnya.
Diposting oleh Zakia Emha di 01.38 0 komentar
Label: Berita
Oleh-oleh Dari Kebun Jambu
Pada hari sabtu tanggal 24 Juli 2010, ACC Crew (Agri Care Community)berkunjung ke kebun jambu biji merah Getas di kebun Bapak Kornen untuk panen bersama. Jambu yang yang sudah terlihat kekuningan di petik lalu di grading dan dicuci lalu dipasarkan.
Setelah dari kebun, jambu yang sudah masak penuh di kemas untuk di olah ke tempat pembuatan sari buah. ACC crew bersama rekan dari pondok pesantren Barokah membuat sari buah jambu. Jambu 25 Kg ditambah dengan 7 Kg gula pasir diolah menjadi satu lalu disterilisasi dan jadilah sari buah jambu yang siap untuk dinikmati.
Diposting oleh Zakia Emha di 01.46 0 komentar
Akankah dengan Program BLBU Pertanian Kita Bisa Berjaya ?
Dalam upaya pengembangan PTT secara nasional, Kementrian Pertanian meluncurkan program Sekolah Lapang (SL) PTT. Program ini merupakan pendidikan non formal bagi petani yang bertujuan untuk menghasilkan produktivitas yang tinggi serta berkelanjutan.
Pada tahun 2010, Dinas Pertanian Kabupaten Kendal mendapatkan alokasi SL-PTT untuk komoditas padi hibrida, padi inbrid, jagung hibrida, kacang tanah dan kedelai. Kelompok Tani sebagai pelaksana program Sl-PTT akan mendapatkan dana Bantuan Sosial (Bansos) dan Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU). Dana Bansos digunakan untuk subsidi pembelian pupuk serta biaya pertemuan petani peserta SL-PTT. Jumlah dana Bansos yang diterima tahun ini lebih kecil jika dibanding dengan tahun 2009 karena pada tahun 2010 benih diberikan melalui BLBU. Sedangkan pada tahun 2009 subsidi benih diserahkan dalam bentuk Bansos (uang) sehingga petani dapat menentukan sendiri varietas benih yang sesuai dengan agroklimat lokasi penanaman.
Beberapa kendala yang terjai di lapang terkait benih yang digunakan dalam program SL-PTT berasal dari BLBU diantaranya pertumbuhan tanaman yang kurang optimal karena varietas yang tidak sesuai dengan spesifik lokasi. Sebagai akibatnya, produktivitas tanaman menjadi rendah. Hal ini tentu tidak sesuai dengan tujuan diadakannya program SL-PTT. Masalah lain dalam BLBU ialah kualitas benih yang sangat rendah. Sebagai salah satu contohnya ialah BLBU Kacang Tanah tahun 2010 di Kabupaten Kendal. Benih yang diserahkan pada petani memiliki daya tumbuh kurang dari 50 % dan tercampur dengan yang sudah busuk. Keadaan ini memaksa petani harus melakukan seleksi beberapa tahap untuk memilih benih bagus yang dapat tanam. Akibatnya, petani menjadi sangat dirugikan apalagi jika benih yang ditanam tidak tumbuh. Petani mengalami kerugian secara waktu karena rata-rata lahan yang digarap bukan miliknya sendiri melainkan lahan sewa.
Penyuluh Pertanian Lapang (PPL) juga terkena dampak akibat kualitas benih yang kurang bagus tersebut. Selain harus menghadapi langsung keluhan petani, PPL juga dianggap tidak dapat memberikan contoh yang baik. Ketika penyuluhan harus menyampaikan kepada petani agar memakai benih unggul, tetapi saat menyalurkan BLBU kualitasnya sangat jauh di bawah varietas unggul. Jika berkelanjutan, petani bisa menjadi trauma dan tidak mau menerima bantuan benih atau bahkan enggan menjalankan program yang diluncurkan Kementrian Pertanian.
Dinas Pertanian Kendal selaku penaggung jawab program BLBU dan SL-PTT tingkat kabupaten telah melakukan upaya agar petani mendapat ganti atas benih kacang yang kualitasnya rendah. Akan tetapi yang sangat disayangkan ialah niat baik ini tidak disertai dengan cara yang baik juga. Langkah yang ditempuh memberikan dampak yang tidak baik bagi petani karena bersifat tidak mendidik. Sistem penggantian yang tidak sesuai dengan surat perjanjian serta tidak transparan terkesan membodohi petani. Jika berkelanjutan, hal ini bisa menyebabkan trauma dan ketidakpercayaan petani pada pemerintah.
Dibutuhkan kerjasama yang baik dan saling mendukung di antara semua stake holder untuk mewujudkan pertanian yang jaya serta petani sejahtera. Sungguh sangat ironis, niat baik pemerintah pusat untuk memajukan pertanian di Indonesia terkendala oleh pihak-pihak yang kurang bertanggung jawab.
Diposting oleh Zakia Emha di 21.15 0 komentar
Label: Berita
Laporan Fedep Expo
Acara seminar yang memperbincangkan tentang pengembangan pendanaan seperti UMKM bagi klaster-klaster dilakukan di kantor Bappeda lt. VI, yang diikuti oleh perwakilan dari semua kabupaten yang ada di Propinsi Jawa Tengah ini. Sebagai narasumber adalah dari Bank Indonesia Cabang Semarang. Maksud dari seminar ini adalah untuk semakin menumbuhkembangkan klaster-klaster yang ada agar ketika pendampingan kelak dilepas maka usaha-usaha yang dilakukan semakin meningkat dan berkembang serta dalam pencarian kebutuhan modal tidak mengalami kesulitan.
Sedangkan di halaman kantor Bappeda diselenggarakan pameran produk-produk unggulan dari masing-masing klaster yang dikembangkan dari kabupaten dilingkup Propinsi Jawa Tengah. hampir semua kabupaten mengirimkan produk olahan dan usahanya. Meski pengunjung yang datang masih terbatas dari kalangan PNS dilingkungan kantor Bappeda dan Pemkot Semarang, namun antusias mereka untuk membeli sangat tinggi. Hal ini dibuktikan dengan laris dan habisnya barang-barang yang dijual oleh klaster-klaster tersebut.
Tidak terkecuali Kabupaten Kendal yang mengirim produk olahan Jambu Getas Merah yang berujud Sari Buah, Sirup dan Dodol habis dibeli oleh pengunjung. Demikian pula bibit Jambu juga habis terbeli. Tidak ketinggalan Pisang Raja Bulu yang menjadi salah satu icon Kendal juga ludes tanpa sisa.
Kegiatan seperti ini memang sangat bermanfaat untuk semakin meningkatkan semangat khususnya petani untuk berkarya, berinovasi dan tekun dalam memasarkan produk-produknya.
Diposting oleh Zakia Emha di 05.13 0 komentar
Menteri Pertanian, Kowani Teken MoU Penganekaragaman Pangan
Kesepakatan tersebut dalam upaya percepatan penganekaragaman konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal agar terwujud komsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang, dan aman dalam jumlah dan komposisi yang cukup, guna memenuhi kebutuhan gizi.
Disamping itu pegurangan konsumsi beras juga menjadi fokus utama gerakan ini. "Dengan gerakan ini saya yakin bahwa penurunan konsumsi beras sebesar 1,5% pertahun akan dapat dicapai," tegas Suswono di Jakarta, Jumat (7/5).
"Suatu saat kita akan kesulitan menanam padi karena suasana iklim yang berubah-ubah. Ini merupakan tantangan bagi sektor pertanian. Mengingat konsumsi beras perkapita secara nasional masih tinggi. Dan kondisi tersebut akan menyulitkan kita di masa akan datang karena penduduk bertambah terus sekitar 1,34% per tahun," ungkap suswono.
Suswono mengungkapkan bahwa saat ini ketergantungan Indonesia terhadap beras sangat tinggi. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi beras di Indonesia sebanyak 139 kg/kapita/tahun. Untuk konsumsi rumah tangga 110 kg per kapita per tahun. Sedangkan negara lain konsumsi berasnya lebih rendah, seperti Malaysia 90 kg/kapita/tahun, Brunei 80 kg/kapita/tahun, dan Thailand 70 kg/kapita/tahun. "Kami menargetkan 2014 sudah harus dibawah 100 kg per kapita per tahun," tegasnya.
Pelaksanaan kegiatan tersebut dilakukan dalam dua tahapan, yaitu tahap I (2009-2011) dan tahap II (2012-2015). Keberhasilan gerakan tersebut ditentukan dengan skor Pola Pangan Harapan (PPH) dimana apabila tercapai kondisi skor PPH 88,1 pada tahun 2011 dan skor PPH 95 pada tahun 2015. (*/OL-03)
Sumber: www.mediaindonesia.com
Diposting oleh Zakia Emha di 01.28 0 komentar
Label: Berita
Selamat Datang di Agri Care Community
Agri Care Community adalah komunitas peduli pertanian yang dibuat untuk membangun jaringan bagi para pelaku, pencinta, penggiat dan aktifis pertanian termasuk didalamnya bidang peternakan, perikanan, perkebunan, tanaman pangan, hortikultura, kehutanan dan agroindustri.
Visi:
Menjadi komunitas yang peduli terhadap kesejahteraan masyarakat pelaku pertanian melalui program-program yang bisa mengangkat harkat dan martabat masyarakat pertanian secara berkelanjutan.
Misi:
- Membangun masyarakat pertanian yang profesional, mandiri, modern dan bermoral tinggi.
- Membina masyarakat petani dengan basis kesejahteraan petani.
- Mengembangkan industri pertanian berbasis komunitas yang berdaya saing tinggi secara berkelanjutan.
- Memperjuangkan kepentingan petani agar tercipta system yang berpihak pada kesejahteraan petani.
Aksi:
- Mambangun jaringan komunitas pecinta pertanian dan membuat simpul-simpul di setiap desa.
- Pengembangan sumberdaya manusia melalui penyuluhan, diskusi, seminar, dan kegiatan lain yang bisa mengembangkan sumber daya perani.
- Meningkatkan akses informasi bagi petani agar bisa mendapatkan informasi pertanian melalui selebaran, artikel, buku, klipping, media internet dan lain sebagainya.
- Mengusahakan terciptanya alternatif pasar sehingga terbangun rantai pasar yang pendek untuk meningkatkan keuntungan petani.
- Melakukan advokasi bagi para petani untuk mendapatkan hak-hak mereka dan memeberi abntuan hukum apabila mendapat masalah hukum.
- Mendorong lembaga keuangan untuk masuk sektor pertanian denganh skema yang menguntungkan petani.
- Mendorong kekuatan modal kolektif petani.
- Merealisasikan subsidi pertanian yang tepat sasaran dan produktif.
Agri Care Community
Diposting oleh Zakia Emha di 23.01 1 komentar
Label: Artikel, Berita, Budidaya Pertanian, Info Sehat, Komunitas, Lowongan Kerja, Manajemen, Pasca Panen, Peluang Usaha, Pemasaran, Produksi Pertanian, Tekhnologi

